Kisah; Menjadi Peneliti Adalah Panggilan Jiwa

Posted by @seputar_lomba on Jumat, 02 Oktober 2015

Kisah ini mimin kutib dari koran Republika, edisi 2 Oktober tahun 2015.
  
Tulisan cerita berangkat dari ulasan berikut;

Menjadi peneliti bukanlah cita-cita Tukirin, pria yang dilahirkan 63 tahun silam. Sedari awal, ia bersikukuh ingin menjadi petani atau orang yang kelak bisa membantu para petani. Keinginan muncul mengingat ayahnya merupakan seorang petani.

Waktu terus berlalu dan waktu juga telah mengubah cita-cita Tukirin yang semula ingin melibatkan diri dengan dunia pertanian. Pada 1979, pria yang semasa kecil hidup di Cilacap ini mulai berhubungan dengan dunia penelitian, yakni di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). "Kebetulan pembimbing saya orang LIPI, ujar lulusan S3 di Universitas Kagoshima Jepang kepada Republika.

Jurusan yang dipilih saat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) adalah biologi. Di jurusan ini, hidupnya sering kali bersinggungan dengan dunia tumbuhan, termasuk penelitian. Karena sering melakukan penelitian, ia pun menemukan keasyikan dan kenikmatan tersendiri. Hingga akhirnya, pria yang ditempatkan di LIPI Cibinong ini pun memutuskan menjadi peneliti.Ketika memilih menjadi peneliti, Tukirin sudah siap menerima segala konsekuensi yang kelak dia terima. Selain masa penelitian yang lama dan sulit, gaji yang diterima peneliti di masa awal, yakni 1979 sangat kecil. Ia hanya menerima Rp 15 ribu per bulan. Jumlah ini jelas tidak mencukupi untuk kehidupannya, mengingat biaya kos pun mencapai Rp 20 ribu per bulan. "Saya lebih sering nombok dan untungnya pemilik kosnya baik," kata dia.

Dalam menjalani kehidupannya, Tukirin mengaku tidak mendapat kasur dari pelayanan yang ia dapatkan di kosnya. Ia hanya tidur beralasan papan, tikar, dengan tambahan bantal. Sarapan pagi pun hanya mendapatkan teh hangat. Meski sulit, entah mengapa ia menikmati setiap hal yang dia jalankan. Menurut dia, ini semua karena panggilan jiwa. Ia menjadi peneliti memang panggilan jiwa, bukan karena iming-iming uang atau apa pun. Sehingga, lanjut dia, hal sesulit apa pun tidak dirasakan olehnya.

Kesejahteraan peneliti agak sedikit meningkat ketika menginjak era 1990-an. Ketika itu banyak proyek yang didapatkan para peneliti. Dengan demikian, para peneliti pun merasa terbantu dengan uang proyek tersebut. "Tapi, kalau dihitung dari dulu hingga sekarang, kesejahteraan peneliti memang terus mengalami peningkatan," jelas dia.

Tukirin menilai, kesejahteraan memang meningkat dan mampu meningkatkan gairah peneliti. Namun, hal ini ternyata tidak berdampak pada kebijakan. Kebijakan dan apresiasi terhadap peneliti belum berubah. Ia menegaskan, dampak nominal itu belum menyentuh kinerja peneliti.

Hal yang perlu diterapkan oleh pemerintah, kata Tukirin, yakni pemberian reward and punishment. Peneliti yang tidak bekerja sesuai proporsi harus diberi hukuman. Sementara, yang berkinerja tinggi perlu diberi bonus. Sejauh ini, baik peneliti yang malas maupun rajin bergaji sama besar.

Menurut Tukinn, dunia penelitian masih belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Hal ini terbukti dengan pendanaan yang diterima para peneliti maupun lembaganya. Berdasarkan informasi yang didapatkannya, pendanaan penelitian Indonesia merupakan yang terkecil di Asia Tenggara.

Tukirin berpendapat, pemangku kebijakan tampaknya tidak sadar bahwa penelitian tidak bisa berjalan dengan mudah dan selesai dalam jangka pendek. Ia mencontohkan, untuk bisa menghasilkan buah nangka besar dan manis, peneliti harus memakan waktu penelitian sampai 25 tahun. "Pada hakikatnya, untuk bisa menghasilkan penelitian yang hebat, perlu peralatan atau teknologi yang canggih. Agar bisa memperoleh alat itu, pendanaan juga harus memadai," kata Tukirin. ci3 f andri saubani

Previous
« Prev Post

Related Posts

06.09

0 comments:

Posting Komentar